Jangan (sampai) lagi

Yang lagi jadi trending topic di Jakarta.
Rasanya saya ingin peluk anak ini...
Aga atau Rangga, kls 2 SMP Global Islamic School, bunuh diri menggantung di lemari baju kamarnya.
Korban broken home, ayah ibunya berpisah, dan masing-masing sudah menikah lagi.
..............................................
 *Dari Status Mbak Sultra di FB
========================

Tak hanya di Jakarta, Kisah itu kini telah menjadi trending Topic di Sosial Media dan akhirnya menyebar ke berbagai daerah di Indonesia [bisa jadi sudah nyebrang ke Negara lain].
Masih banyak kasus serupa seperti yang dialami oleh adik kita aga tapi banyak pula korban broken home yang berhasil keluar dan berdiri tegak menjalani kehidupan mereka dengan lebih baik.

Tak hanya itu...
Majalah TIME, menerbitkan tentang Marlboro’s Boys, Dihan Muhamad. Anak kelas 2 SD yang merokok 2 bungkus rokok sehari. Tak ada larangan yang tegas. Pemerintah? Hanya sebatas himbauan di bungkus rokok yang kini berganti menjadi gambar yang katanya "menyeramkan" .
Yah....Indonesia memang selalu menjadi sasaran empuk.
Siapa yang  menjadi sasaran mereka?
Bukan mereka yang telah udzur, yang kini ramai menghuni mesjid di usia senja mereka.
Tapi pada mereka sang pemuda(i) yang kelak akan menjadi orang tua yang akan mendidik anak mereka. Bagaimana kelak mereka akan mendidiknya?

Jadi, siapa yang perlu kita salahkan?
Kami tak ingin menyalahkan siapa-siapa karena kami bukanlah siapa-siapa.
Kami, hanyalah seorang Anak
Kami, hanyalah seorang Adik
Kami, hanyalah seorang Tante (kholatun/ammatun)
Kami, hanyalah seorang teman
Kami, hanyalah seorang Calon Ibu

Calon ibu, yang kelak akan menjadi madrasah pertama bagi anaknya.
Yang kelak akan merawatnya menjadi mujahid dan mujahidah..
Yah, mulailah dari diri kita sendiri. Karena kelak ini akan seperti virus, menyebar. 
Karenanya, tularkan!!!!

Pada mereka, saudara kita.
Pada mereka, tetangga kita.
Pada mereka, Sahabat kita
Pada mereka, yang masih peduli.
Dan pada mereka, yang masih (juga) acuh.

Lalu, apa yang kau lakukan?
Disini, terus belajar menjadi lebih baik, karena tak ada kata berhenti untuk belajar. Memperbaiki diri.
Karena sekedar rasa bangga sebagai seorang muslim taklah cukup, belajar (tarbiyah) adalah jalan agar kami lebih tahu tentang Dien-Nya yang Maha Sempurna ini.


#Ditulis disela menantimu, yang sedang diperjalankan kemari,menjemputku. [ending tulisan out of the box...^^]

-SR, 18 Januari 2015-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilikimu.....*Copas Tere Liye

Lebih Berharga daripada Berlian dan Mutiara

Embun akan tetap menguap...