Embun akan tetap menguap...

Februari, katanya bulan cinta. Kembali ke Kota Jogja. Belum pantas kata "cukup" untuk kunjungi kota itu. [Pulang ke kotamu //ada setangkup haru dalam rindu// Masih seperti dulu// Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna *backsound]

Bukan tak Spesial Maret hingga April, tapi kubiarkan ia lari seperti kuda liar.

Mei, subhanallah atas hikmah atas setiap peristiwa. Kehilangan, adalah pelajaran untuk mengingatkan kami bahwa harta hanyalah titipan, sementara. Tak kekal seperti amal yang akan kau bawa ke tempat dimana "Kekekalan" akan dimulai.

Juni, bergelut dengan GSB (Gerakan Seribu Buku), tapi lebih kepada gerakan belajar menulis, membaca, dan disiplin waktu menurutku.

Juli, pengalaman pertama. Menikmati Ramadhan dalam suasana i'tikaf di mesjid. Ikatan ukhuwah, diikat oleh Dia, sang pemilik Cinta.



September, Oktober, dan Nopember. Triwulan padat. Ketika pagi ternyata kembali menyapa, dan senja luput untuk dinikmati. Hanya ada hari yang mesti kami ingat di Oktober, sebagai penanda adanya kami 27 tahun yang lalu, hari ketika kami hadir menggenggam perjanjian, dengan Dia yang tak pernah ingkar janji.

Desember, diawali dengan kembali merasakan nikmatnya hilang. Lagi dan lagi, Sang Pemilik Skenario tahu apa yang terbaik.

Ini bukanlah akhir perjalanan.
Kapan berakhir di Terminal ini, Dia yang Maha Tahu.
Yang pasti, setelah kami Kau rasa "cukup" melakukan perjalanan dengan "dia" yang Kau pertemukan dengan kami di terminal tempo hari.

Esok, insyaAllah embun akan tetap menguap bersama datangnya mentari, walau tak kau sambut ia dengan terompet dan petasan malam ini.

Dan masih ada Senja, tentunya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilikimu.....*Copas Tere Liye

Lebih Berharga daripada Berlian dan Mutiara