Kuingat surat cintaku yang pertama untukmu Kau hadir sebagai penerima dihadapku Entah apa yang menahannya sampai surat itu tertahan sampai 14 hari kubersamamu. Puisi ini bisa jadi demikian adanya Tersimpan di lemari draft sampai ku sanggup menyelesaikannya . .. Amarah bisa jadi meledak Akhirnya Air mata mengalir Bisa jadi.... Karena tak selamanya air tenang Ada riak bahkan gelombang Suatu hari mungkin kita melewati hal itu… Ketika berlayar bersama dalam suatu bahtera Dan datang memelukmu dari belakang Menumpahkan segalanya dipunggungmu Dan jika sudah reda, Izinkan aku bersandar di dadamu Dan izinkan aku memelukmu, erat... Agar amarahmu reda. Kelak.... Tapi kini… Aku telah ada dipelukanmu Membicarakan mimpi-mimpi kita Membicarakan tingkah konyol kita dimasa lalu Mendengarkanku menjabarkan mimpiku Atau seperti hari itu ketika kumenenggelamkan wajahku di pelukanmu Malu..merona pipiku karena pikirku yang liar padamu Kaupun mengangkat daguku agar kuberani menatapmu Itupun hanya sedetik Dan ...
Pernah bermain roller coaster? kalau saya belum...:( hanya melihat dari layar kaca, bagaimana reaksi orang-orang saat menikmati wahana bermain tersebut. hmmmm......sepertinya reaksinya teriak kencangnya itu saat roller coaster menurun, betul gak yah? (jangan-jangan pengamatan saya salah) Keimanan, bisa juga diibaratkan dengan roller coaster ini. Keimanan kita juga kadang naik dan turun. InsyaAllah di tulisan saya selanjutnya akan membahas mengenai penyebab "Roller Coaster" keimanan ini...^_^ Tapi kata kuncinya seperti ini, keimanan itu bisa naik dengan ketaatan kita kepada aturan-aturan-Nya dan akan turun dengan kemaksiatan. Semoga kita semua senantiasa diberikan keistiqamahan, ditetapkan pada kebaikan setelah kebaikan itu didekatkan dengan kita. Aamiin, Allahumma aamiin.
Diterjang Badai taifun" semalem nonton kompas tv ada interview dengan Capt Pilot ACHMAD FARUQ, saya sangat terkesan dengan sisi spiritualitas yg beliau ceritakan yg dimuat di buku 9 Pilot Mencari Tuhan dan iseng googling siapa beliau, nemu tulisan salah satu pengalaman beliau ini... Saya juga pernah merasakan saat-saat maut seakan sudah sedemikian dekat, ketika itu tengah bertugas bersama seorang rekan menerbangkan pesawat berbadan lebar, yaitu Airbus A-330 yang memiliki kapasitas 300 penumpang, menuju Hongkong. Pesawat ini merupakan pesawat canggih seharga kurang lebih 1,2 triliun rupiah, dilengkapi dengan tiga buah sistem komputer navigasi yang berfungi untuk cross-check informasi agar menghasilkan data dan angka yang akurat. Saya masih ingat, peristiwa itu terjadi pada bulan Juni 1997, hampir pukul 11 pagi, pesawat raksasa tersebut mengangkasa. Ahli cuaca meramalkan akan terjadi Taifun Edward, sejenis angin topan beliung raksasa yang besar, lebih kurang 20 menit setelah ...
Komentar
Posting Komentar